Senior kampus ngadain acara Pekan Qiamul Ramadhan. Acaranya antara lain buka puasa bersama, tadarus khatam al-qur'an, tarawih berjamaah, dan lomba membuat ta'jil. Dalam lomba tersebut setiap kelas harus mengirimkan duta minimal 3 kelompok. Sebagai ketua kelas, saya bertanggung jawab untuk mengorganisir rekan saya terbagi menjadi 4 kelompok. Jumlah diatas minimal dari panitia PQR. Bayangkan, dengan uang Rp 10.000 per kelompok, kami harus membuat menu ta'jil.
Perintah dari senior yang sangat mudah, bukan?
Ternyata gak semudah yang dibayangkan, sodara-sodaraku sekalian. Karena sewaktu saya mengorganisir pembagian kelompok, teman-teman saya justru pada bubar jalan. Amburadul. Mencar semua. Ada yang pulang duluan lah. Apa lah. Dan lah lah lainnya.
Bbrrrr....
Kepada teman yang setia nongkrongin muka manis saya di kelas, saya bicara dan memutuskan untuk.....
biar saya aja yang bertanggung jawab penuh atas pembuatan ta'jilan tersebut yang nantinya akan dibagi kepada 4 kelompok.
Akhirnya dengan modal sisa patungan modul komputer, saya membeli bahan-bahan ta'jilan berupa singkong, ubi, gula merah, gula putih, kelapa, pewarna makanan, daun pisang, daun pandan, tepung ketan, dan terigu.
Walah, banyak banget ya? Ya iyalah, sebenernya saya malah tekor. Hey, kawans... Kalian harus membayarnya dengan push up 500 kali.
Berbekal pengalaman kos saya selama 12 tahun, dan sebagai mantan ketua regu inti pramuka saat SMP, saya membuat menu kolak candil dwi warna dan nagasari. Sebenernya dibantu ibu saya sih.
"Mak, singkongnya diparut"
"...."
"Mak, ubinya direbus dulu"
"...."
oalah... Ini Mak saya apa pembantu, ya. Seenaknya aja saya nyuruh-nyuruh. Maafin saya, Mak!
Sekali lagi,
kawans... kalian harus membayarnya dengan push up 500 kali.
Singkat cerita, matanglah semua masakan saya. Nagasari dan kolak candil dwi warna siap packing dalam kardus. DALAM KARDUS!
Singkat cerita lagi, sampailah saya di kampus. Dan saatnya penilaian ta'jil dari panitia lomba.
Dari kejauhan saya merhatiin sang juri yang asyik menilai. Lah kok ta'jil saya dilewatin aja gitu loh. Tanpa dinilai.
Dengan gagah berani saya dekati meja ta'jil dan bilang sama juri,
"Bu, yang di dalem kardus itu ta'jil punya kelompok saya lho"
Maklum, tadi saya lupa ngeluarin dari kardus. Mana nagasari nya belum diiris-iris pula!
Saya iri ngeliat menu milik kelompok lain yang bagus-bagus dan indah-indah banget. Sementara punya kelompok saya cuman kolak candil dwi warna dalam plastik dan nagasari dalam balutan daun pisang yang masih "njlepeng" karena belum diiris-iris.
Walah, gagal jadi juara deh.
Mengalihkan rasa sedih dan gak pede, saya ngajak ngobrol senior tingkat akhir disebelah saya.
"Berbukalah dengan yang manis", kata saya sambil menunjuk diri sendiri.
Jelas yang manis saya, bukan dia.
Post a Comment