Pagi tadi saya googling nyari info tentang perubahan nama. Sampailah saya di situs web pencatatan sipil. Dari situ saya tahu prosedur harus begini-begitu, persyaratannya ini-itu. Hah, ternyata gampang.
Sesuai petunjuk dari situs pemerintah tadi, saya langsung menuju pengadilan negeri jakarta utara. Jaraknya dekat sama rumah saya. Langsung deh saya meluncur kesana.
Dengan pede, saya menyapa satpam setempat.
"Pagi, Pak. Buka ya?", sambil menunjuk pintu pengadilan yang jelas-jelas terbuka lebar.
Di dalam, saya nanya lagi sama petugas (lha, kok satpam lagi?). Ketika saya mengutarakan tentang persyaratan perubahan nama, si petugas (kali ini bukan satpam) malah bengong.
"Ini pengadilan agama, dek. Bukan pengadilan negeri." kata si petugas sambil nunjukin emblem bertuliskan 'PENGADILAN AGAMA' di lengan kirinya.
Saya buru-buru pamitan karena gak mau menanggung malu yang teramat sangat. Di luar pintu gerbang terpampanglah plang tulisan "PENGADILAN AGAMA JAKARTA UTARA" dengan ukuran huruf gede-gede banget.
Ini aneh, berjuta-juta kali bahkan udah gak keitung saya lewatin jalan ini, tapi gak 'ngeh' kalo ternyata itu adalah pengadilan agama.
Lumayan lah, setidaknya saya jadi tau kalau suatu saat nanti saya mengurus sidang perceraian atau pernikahan poligami. Hehe...
Pas mau pulang, saya dihadang satpam. Kirain mao minta duit parkir. Gak taunya dia mao nebeng pulang jg. Selama perjalanan, dia nanya apa keperluan saya. Saya jawab salah tempat, nyasar. Harusnya ke pengadilan negeri. Tiba-tiba si satpam nawarin pergi bareng ke PN. Saya merengut, tapi setuju ama tawarannya. Sebenernya gak ikhlas karena saya ngeliat gelagat tidak bersahabat dari sikapnya. Halah, si satpam 2x nebeng + gratis sebotol akua + 1 bungkus rokok. Bensin saya pula yang isi. Oh, Tuhan... ini derita saya pagi ini.
FYI: jangan pernah pergi sendirian ke PN. Karena banyak banget calo bermuka serem yang mungkin menguras uang Anda. Kalo perlu ajak aja warga se-RT biar kita gak kalah jumlah pasukan.
Di dalem gedung PN yang notabene milik pemerintah, sungguh jauh dari yang saya bayangkan. Tempat yang amburadul. Ngerokok sembarangan didalam ruang ber-AC, dan mungkin ada indikasi pungli.
Saya jadi ragu untuk membuat akta lahir. Kenapa sih mempersulit urusan yang sebenarnya mudah diselesaikan?
Akhirnya saya pulang dengan kekecewaan mendalam. Saya memilih untuk tidak punya akta lahir daripada harus berurusan dengan birokrasi yang bikin ribet.
Post a Comment